Jumat, 05 Juni 2015

Kemiskinan itu Menjadi Teman



Aku tidak akan pernah lupa dengan apa yang harus aku perjuangkan untuk mendapatkan segala yang aku inginkan. Aku sangat tahu dan sadar bahwa keluargaku sangat miskin. Tapi tidak pernahku tahu betapa pedih kemiskinan itu sesungguhnya. Dan saat semua bisa berkata apa saja yang mereka suka dan yang mereka mau, lantas bagaimana dengan ku? Aku hanya terpuruk dalam masa depan suram ku, dan masa lalu ku yang tak dapat aku raih lagi. Ketika kaki ini mulai melangkah tak tentu arah pandang dan tujuan, menahan semua luka jiwa, hanya 1 yang dapat aku sesali saat itu. Dad, YOU ARE MY EVERYTHING  but why did you leave us to fend for themselves? Semua itu yang hanya ada di benakku. Hanya dapat mengandai kecil yang mungkin kan ku gapai. Jika ayahku tidak memilih menjadi pengangguran, mungkin aku akan hidup lebih layak bersama adik dan ibuku.
Mungkin ayahku telah menjadi orang yang paling bodoh sedunia? Mungkin ayahku seorang yang paling berdosa di dunia? Dia adalah sosok yang paling aku harapkan tapi  dia telah menjadi sosok yang paling menyia-nyiakan kehadiran kami. Mungkin dia  akan bilang aku hanyalah anak kecil yang merengek dan menyusahkan orang lain. Tapi apakah ia tahu siapa yang selalu menjadi pahlawan ku? Dia adalah istrinya (ibuku) Ibuku adalah sosok wanita kuat yang menjadi motivator ku. Ibu lah yang selalu berjuang keras menahan sakit untuk dapat menyekolahkan aku, ibu percaya hanya dengan pendidikan sahaja yang mampu mengubah kemiskinan itu. ibu tidak mahu anak-anaknya mewarisi kemiskinannya seperti mana ibu dan ayah juga telah mewarisi kemiskinan orang tua mereka turun-temurun.
Sejak SMP ayah memutuskan untuk tidak bekerja, ibuku saat itu hanya ibu rumah tangga biasa, setiap harinya kami hanya makan dari tanaman yang ada di kebun, sebutir telur harus dibagi tiga untuk aku, adik dan juga ibuku. Maka ketika ulang tahun ibu memberikan satu telur utuh terasa bagai hadiah istimewa buat kami semua. Untuk kebutuhan sehari-hari, buah-buahan hasil kebun dijual ibuku dengan tanpa patokan harga tergantung yang mau membeli. Sampai selepas SMK ayahku masih tidak mau bekerja. Maka saat itu ibuku memutuskan untuk mencari pekerjaan.
Sering aku berangkat sekolah tidak ada sarapan dan tidak ada uang saku. Maka dengan sangat terpaksa waktu itu jarak kesekolah harus kutempuh dengan jalan kaki. Memang, Berjalan kaki ke SMK ku di Jl. Wahidin dari rumahku tidak sejauh Ma Yan berjalan (buku yang pernah aku baca) tetapi jarak 3 kilometer cukup jauh dan cukup membuat bengkak kakiku, selain itu juga sangat melelahkan untuk ku tempuh dibanding teman-temanku yang datang dengan kendaraaan. Argh.. tidak hanya itu aku masih ingat aku harus menahan hati melihat teman-temanku membeli segala barang sementara aku sendiri tidak. Apa mungkin ayah tahu persis bagaimana penderitaanku ketika itu?
Melihat perjuangan ibu dengan lebam lebam di tanganya akibat sering mencuci pakaian tetangga maka aku berniat mempersembahkan prestasi sebagai hadiah kerja kerasnya. dan Saat masa sekolah kutenggelamkan diriku dalam buku-buku pelajaran, seringkali buku-buku itu kuperoleh dari meminjam baik di perpustakaan atau teman-teman atau harus bongkar gudang mencari buku-buku orangtuaku jaman dulu, toh ilmu bisa didapat dari buku mana saja tidak harus sama dengan yang digunakan disekolah. Pada saat itu yang ada dalam benakku hanyalah berhasil di sekolah, setiap selesai sholat tahajud aku langsung belajar pada jam 3 pagi, sore hari, malam hari, kegiatanku cuma belajar. Akhirnya prestasi terbaik tak pernah lepas dari tanganku tapi ketika harapanku untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi harus terhenti seolah duniaku mati. Saat itu ibuku datang dan memberitahu bahwa ia tidak mungkin bisa membiayai kuliyahku, aku diminta mengerti karna sudah cukup beban ibuku untuk membiayai sekolah adiku. Berhenti sekolah adalah mimpi buruk bagiku. Aku menangis, berontak, marah..merasa tidak berguna, merasa tidak dihargai segala prestasi yang didapat. Selama berminggu-minggu semangatku lenyap, tapi aku tidak mau kalah hingga akhirnya aku mengikuti test di sebuah lembaga pendidikan program 4 tahun dengan biaya pendaftaran yang kuhutang pada tetanggaku dulu (karena memang belum ada) namun sepertinya Allah tidak mengabulkan doaku. Aku GAGAL.  Maka tahun berikutnya aku mencoba lagi namun lagi lagi kegagalan itu yang datang.
Saat itu aku merasa sudah tidak punya banyak waktu. Aku nekad pergi ke kota , mempertaruhkan hidup dan bersedia bekerja apapun asal bisa membiayaiku  kuliyahku. Dan Alhamdulillah Allah mengabulkan doaku dan doa ibuku ,aku bisa melanjutkan kuliyah dengan biaya sendiri.
Tanpa semangat kerja keras  ayah dulu, telah membuat ku berpikir bahwa ayahlah yang telah membuat hidupku hancur sangat HANCUR. Namun disisi lain aku tahu ayah yang sudah membuatku menjadi gadis yang mandiri, gadis dewasa, gadis tegar.  Ingin sekali aku pertanyakan Siapa aku sebenarnya di mata dia? Apa aku hanya seonggok daging dengan namaku? Bukan kah aku seharunya adalah little angel nya? Yang aku heran dia begitu tega membiarkan aku dan ibuku berjuang sedemikian keras Kenapa dia membuat cerita yang begitu sendu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar