Aku tidak akan pernah lupa dengan
apa yang harus aku perjuangkan untuk mendapatkan segala yang aku inginkan. Aku
sangat tahu dan sadar bahwa keluargaku sangat miskin. Tapi tidak pernahku tahu
betapa pedih kemiskinan itu sesungguhnya. Dan saat semua bisa berkata apa saja
yang mereka suka dan yang mereka mau, lantas bagaimana dengan ku? Aku hanya
terpuruk dalam masa depan suram ku, dan masa lalu ku yang tak dapat aku raih
lagi. Ketika kaki ini mulai melangkah tak tentu arah pandang dan tujuan,
menahan semua luka jiwa, hanya 1 yang dapat aku sesali saat itu. Dad, YOU ARE
MY EVERYTHING but why
did you leave us to fend for themselves? Semua itu yang hanya ada di benakku.
Hanya dapat mengandai kecil yang mungkin kan ku gapai. Jika ayahku tidak memilih
menjadi pengangguran, mungkin aku akan hidup lebih layak bersama adik dan ibuku.
Mungkin ayahku telah menjadi
orang yang paling bodoh sedunia? Mungkin ayahku seorang yang paling berdosa di
dunia? Dia adalah sosok yang paling aku harapkan tapi dia telah menjadi sosok yang paling
menyia-nyiakan kehadiran kami. Mungkin dia akan bilang aku hanyalah anak kecil yang
merengek dan menyusahkan orang lain. Tapi apakah ia tahu siapa yang selalu
menjadi pahlawan ku? Dia adalah istrinya (ibuku) Ibuku adalah sosok wanita kuat
yang menjadi motivator ku. Ibu lah yang selalu berjuang
keras menahan sakit untuk dapat menyekolahkan aku, ibu percaya hanya dengan
pendidikan sahaja yang mampu mengubah kemiskinan itu. ibu tidak mahu
anak-anaknya mewarisi kemiskinannya seperti mana ibu dan ayah juga telah
mewarisi kemiskinan orang tua mereka turun-temurun.
Sejak SMP ayah
memutuskan untuk tidak bekerja, ibuku saat itu hanya ibu rumah tangga biasa,
setiap harinya kami hanya makan dari tanaman yang ada di
kebun, sebutir telur harus dibagi tiga untuk aku, adik dan juga ibuku. Maka
ketika ulang tahun ibu memberikan satu telur utuh terasa bagai hadiah istimewa
buat kami semua. Untuk kebutuhan sehari-hari, buah-buahan hasil kebun dijual
ibuku dengan tanpa patokan harga tergantung yang mau membeli. Sampai selepas SMK
ayahku masih tidak mau bekerja. Maka saat itu ibuku memutuskan untuk mencari
pekerjaan.
Sering aku berangkat sekolah tidak
ada sarapan dan tidak ada uang saku. Maka dengan sangat terpaksa waktu itu
jarak kesekolah harus kutempuh dengan jalan kaki. Memang, Berjalan
kaki ke SMK ku di Jl. Wahidin dari rumahku tidak sejauh Ma Yan berjalan (buku
yang pernah aku baca) tetapi jarak 3 kilometer cukup jauh dan cukup membuat
bengkak kakiku, selain itu juga sangat melelahkan untuk ku tempuh dibanding
teman-temanku yang datang dengan kendaraaan. Argh.. tidak hanya itu aku masih
ingat aku harus menahan hati melihat teman-temanku membeli segala barang
sementara aku sendiri tidak. Apa mungkin ayah tahu persis bagaimana
penderitaanku ketika itu?
Melihat perjuangan
ibu dengan lebam lebam di tanganya akibat sering mencuci pakaian tetangga maka
aku berniat mempersembahkan prestasi sebagai hadiah kerja kerasnya. dan Saat
masa sekolah kutenggelamkan diriku dalam buku-buku pelajaran, seringkali
buku-buku itu kuperoleh dari meminjam baik di perpustakaan atau teman-teman
atau harus bongkar gudang mencari buku-buku orangtuaku jaman dulu, toh ilmu
bisa didapat dari buku mana saja tidak harus sama dengan yang digunakan
disekolah. Pada saat itu yang ada dalam benakku hanyalah berhasil di sekolah,
setiap selesai sholat tahajud aku langsung belajar pada jam 3 pagi, sore hari,
malam hari, kegiatanku cuma belajar. Akhirnya prestasi terbaik tak pernah lepas
dari tanganku tapi ketika harapanku untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi
harus terhenti seolah duniaku mati. Saat itu ibuku datang dan memberitahu bahwa
ia tidak mungkin bisa membiayai kuliyahku, aku diminta mengerti karna sudah
cukup beban ibuku untuk membiayai sekolah adiku. Berhenti sekolah adalah mimpi
buruk bagiku. Aku menangis, berontak, marah..merasa tidak berguna, merasa tidak
dihargai segala prestasi yang didapat. Selama berminggu-minggu semangatku
lenyap, tapi aku tidak mau kalah hingga akhirnya aku mengikuti test di sebuah
lembaga pendidikan program 4 tahun dengan biaya pendaftaran yang kuhutang pada
tetanggaku dulu (karena memang belum ada) namun sepertinya Allah tidak
mengabulkan doaku. Aku GAGAL. Maka tahun
berikutnya aku mencoba lagi namun lagi lagi kegagalan itu yang datang.
Saat itu aku
merasa sudah tidak punya banyak waktu. Aku nekad pergi ke kota , mempertaruhkan
hidup dan bersedia bekerja apapun asal bisa membiayaiku kuliyahku. Dan Alhamdulillah Allah
mengabulkan doaku dan doa ibuku ,aku bisa melanjutkan kuliyah dengan biaya
sendiri.
Tanpa semangat kerja keras ayah dulu, telah membuat ku berpikir bahwa
ayahlah yang telah membuat hidupku hancur sangat HANCUR. Namun disisi lain aku
tahu ayah yang sudah membuatku menjadi gadis yang mandiri, gadis dewasa, gadis
tegar. Ingin sekali aku pertanyakan
Siapa aku sebenarnya di mata dia? Apa aku hanya seonggok daging dengan namaku?
Bukan kah aku seharunya adalah little angel nya? Yang aku heran dia begitu tega
membiarkan aku dan ibuku berjuang sedemikian keras Kenapa dia membuat cerita yang
begitu sendu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar