Mungkin
bukan saatnya untuk membicarakan cinta dalam benakku saat ini Karena ku
terperangkap dalam banyak tanggung jawab dan segudang target yang harus dicapai
tahun ini. Tapi, dia membuatku ternganga saat kejadian di hari itu.
Altaf namanya selalu ada dipikiranku
saat itu. Mungkin karena kagum atau suka atau mungkinkah cinta. Senyumnya yang
unik, selalu tergambar wajahnya yang polos dan kata-katanya yang lugas dan
tegas. Memberikan semangat pada diriku. Memberikan kekuatan yang dahsyat untuk
menjadi pribadi yang lebih baik dan terus lebih baik sepanjang hari. Menjemput
segudang prestasi di kelas. Melawan keterbatasan yang ada pada diriku. Agak
sedikit lebay kurasa, tapi memang seperti itu. Dampak singkat yang ditimbulkan
oleh pancaran hatinya yang tulus. Dia yang banyak berprestasi membuatku terus
termotivasi setiap hari dalam hidupku.Matanya yang teduh membuatku tak bisa
melupakannya.
Malam itu ia mengirim pesan kepadaku.
Mengirim sebaris kalimat yang mebuatku tersenyum. Ia sedang menyatakan segala perasaannya
saat itu. Aku sedikit kaget, bagaimanamungkin seorang Altaf laki-laki
terpopuler di sekolahku suka dengan anak penjual soto keliling seperti aku?
Arghhh ntahlah! Tanpa berpikir panjang akupun membalasnya “iya aku juga
mencintaimu”
Sejak hari itu aku merasa hidupku penuh
arti. Ada semangat baru setiap kali aku melngkahkan kaki ke sekolah. Altaf merubah
hidupku… ! Merubah segala hal dalam diriku termasuk merubah sikap teman
temanku. Aku juga tidak mengerti kanapa di saat aku sedang bahagia bersama Altaf
tak ada satupn orang yang mau berteman denganku. Bahkan sahabatkupun juga
menjauh. Terlalu banyak sepasang mata yang menatap kami dengan sinis. Tidak
haya di sekolah tapi juga orang orang di luar. Ketika di taman, di mall, nonton
I segala tempat keramaian aku merasa banyak orang yang merasa tidak suka
melihat aku dengan Altaf. Itu tterlalu
jelas untuk kku tafsirkan tapi Altaf selalu saja mengatakan “itu hanya
perasaanmu saja”.
Setaun berlalu, banyak cerita tentang aku dan dia yang tidak mungkin aku
jelaskan satu persatu disini.. Yang jelas semakin aku mengenalnya semakin aku
mengerti siapa dia. Altaf adalah anak saudagar kaya raya kekayaan oran tuanya
tidaak membuat ia malas untuk meraih prestasi demi prestasi di sekolah. Aku sempat
merasa takut ketika orang tuanya suatu saat melihat keadaanku. Aku takut kalau
mereka tidak setuju tapi aku ternyata salah orang tuanya sangat mendukung
hubungan kami sekalipun mereka tau anak siapa aku sebenarnya.
Banyak
orang orang yang mencintainya termasuk seluruh guru dan teman teman di
sekolahku tidak seperti aku. Ntahlah kenapa bisa seperti itu.. Akku tidak ambil
pusing yang jelas merasa bahagia. Minggu depan Altaf akan di kirim ke Amerika
untuk mengikuti lomba. Namun, satu hal yang
sangat aku khawatirkan saat ini ya tentang penyakitnya. Selama ini Altaf menyidap
penyakit kangker stadium 3.! Dan aku baru tau itu. Namun statementnya tentang
segala penyakit yang dia rasakan seolah mampu memabayar rasa khawatirku.
Dua hari sebelum keberangkatannya ia
menitipkan cincin kepadaku. Ia mengatakan bahwa cincin itu adalah cincin dari
neneknya ia memakaikanya di tangan kiriku. Hanya sebagai pengingat saja bahwa
aku miliknya. Begitu katanya.
Semenjak aku memakai cincin itu aku
merasa terlalu banyak hal aneh yang terjadi pada diriku. Aku sering melihat
penampakan penampakan di kamarku. Sepertinya cincin itu membawa pengaruh besar
dalam diriku. Aku mendadak mempunyai indra ke6 begitu kata ayah dan ibu ku.
Sebenarnya orang tuak ingin mengenal dekat Altaf tapi setiap kalia aku mengajaknya
kerumah ia selalu saja menolak dedngan berbagai alas an.
Sore
itu saat aku berjalan keluar rumah aku bertemu dengan kakaknya Altaf, kak Rey.
Ia menghampiriku dan mengajakku kerumahnya. Tanpa bertanya pun aku mengikuti
langkahnya. Sesampainya disana, aku merasa sedikit aneh. Rumahnya yang biasanya
sepi hari ini sesak di penuhi orang orang berpakaian hitam dan di depan
rumahnya berkibar bendera kuning. Bendera kematian. Siapa yang meninggal?
Tanyaku.
“titipkan
pesanmu kepada Altaf ya” ucak kak Rey yang sepertinya membaca kebingunganku.
Pesan kepada Altaf? Apa maksudnya? Aku
memasuki pagar rumah besar itu dengan langkah gemetar, langkahku terhenti
ketika aku tepat berada di depan pintu. Hari itu aku benar-benar merasa
frustasi, tidak ada lagi hasrat untuk hidup yang melekat di dalam jiwa,
hari-hari bagaikan jurang yang curam, seperti mendung yang tak akan pernah
memperlihatkan cahaya mantahari. Rasanya mengakhiri hidup merupakan jalan
satu-satunya yang terbaik. Air mataku meleleh begitu saja saat aku melihat
tubuh Altaf yang berbalut kain putih sudah terbaring kaku.
“sabar
ya…” kak rey merengkuh bahuku. Ia berusaha memberi kekuatan kepadaku tapi itu
sangat tidak berpengaruh buatku. Perlahan aku melangkahkan kaki mendekati tubuh
Altaf. Aku harus kuat ! Iya aku harus kuat.
“sayang bangun… kenapa kau tidur saja?” Kataku
pada tubuh yang terbujur kaku itu akuberusaha tersenyum. Ku cubit pipinya, ku
goyang goyang tubuhnya tapi ia tetap saja tidak mau bangun. Air mataku kembali
meleleh aku benar benar tidak sanggup menahan
gejolak dalam hati. Seorang wanita yang masih muda menghampiriku dan
merengkuh badanku.. Akhirnya aku menangis sejadi jadinya di dalam pelukannya.
“kenapa bisa seperti ini tante?” Kataku terisak.
“Altaf kecelakaan sewaktu perjalanan ke
Amerika kemarin….” Suaranya tercekat dan air matanya meleleh dengan
derasnnya. “ Nyawanya tidak dapat
tertolong. Hari ini ia akan di makamkan ke jawa tengah. Di tempat pemakaman
keluarga kami. Berilah pesan terakhirmu Risa…” ucap wanita berumur 45 tahun itu
dengan nada bergetar dan sedikit memohon… tiap kalimat yang ia ucapkan
menyimpan kepiluan yang tidak bisa di gambarkan.
Mendengar kenyataan itu hatiku merasa
semakin sakit. Melihat kenyataan ini pikiranku terasa terkuras. Aku masih ingin
melihat senyumnya, tawanya dan amarahnya. Aku juga tidak ingin jika mata teduhnya
itiu benar-benar tertutup untuk selama-lamanya. Tapi arghhh.. !
Aku mengembalikkan pikiranku yang
melambung jauh dan menghentikannya untuk melihat bintang-bintang masa lalu dari
otak dan memoriku. Aku harus bisa meenerima kenyataan. Mungkin ini akhir
kisahku….!
DRRTTT…DRTTTTT…
Aku dikagetkan dengan suara getaran
handphne yang aku letakan di nightstand. Aku raih handphone itu dan memencet
tombol hijau disana.
“Halo?” Sapaku dengan suara yang sedikit parau.
“Risa, Ini kak Arya mau ngabarin sesuatu buat kamu. Besok Altaf akan datang diacara perpisahanmu ia akan menjemputmu.”
“Halo?” Sapaku dengan suara yang sedikit parau.
“Risa, Ini kak Arya mau ngabarin sesuatu buat kamu. Besok Altaf akan datang diacara perpisahanmu ia akan menjemputmu.”
Aku tertegun. Altaf ? Mana mungkin ia
datang? Mana mungkin ia menjemputku..?
“Risa, kamu masih disana?”
“jangan bercanda kak” kataku yang
sedikit tersenyum kecut meski aku tau kak Arya tidak akan melihatnya.
“sudahlah besok tunggu saja ia datang
kesekolah”
Tutt tuttt tutt panggilan terputus. Aku
menghela nafas panjang. Aneh !
Esoknya
masih seperti biasa, aku datang pukul setengah 7 pagi. Aku berpapasan dengan
Mira, dan jalan bersama menuju aula. Hari ini adalah hari perpisahan kelas
kami. Sesampainya disana kami memilih dudu paling depan. Selain ingin melihat
dengan jelas acara demi acara kami juga tidak ingin terganggu dengan suara riuh
anak lelaki jika kami duduk di belakang.
Acara selesai. Aku bergegas pulang namun
langkahku terhenti seketika saat seorang laki laki memanggil namaku
“Risa..”
Aku menengok kearah suara itu? Suaraku
tercekat, mulutku ternganga. Seorang laki laki yang cukup aku kenal tengah
berdiri di gerbang sekolah. Namun, di belakangnya tengah berdiri wanita cantik berpakaian
putih dengan rambutnya yang tegerai panjang. Laki laki itu melangkah mendekat
kearahku.. Ia berusaha merengkuhku
“jangan mendekat” kataku seraya
melangkah mundur
“why? Ini aku Altaf”
Aku menggelengkan kepala “tidak !Kamu bukan
Altaf”.
“ris…” ia melangkah mendekat dank u
hempaskan tangannya yang berusaha menyentuh pundakku. Tiba tiba Air mataku
mengalir deras. Bagaimana bisa? Mana mungkin ini terjadi? Semua di luar kontrol
otakku aku terjatuh di tanah.. Aku berusaha kuat. Aku tidak boleh pingsan. Laki
laki itu berjalan dan duduk jongkok di kananku.
“maafkan aku ris..aku tidak tau apa yang
sebenarnya terjadi. Waktu itu usai kecelakaan aku sedang berada di dalam rumah.
Tapi rumah tampak sepi ayah ibu kak.rey semua tidak ada. Aku di kunci di dalam
rumah. Aku berusaha menghubungi nomer mereka sama sekali tak ada jawaban..” Katanya.
“sorenya mereka pulang. Mereka terkejut melihat aku yang sedang tidur di sofa
ruang tamu. Mereka ketakutan sama sekali tak ada yang mau mendekatiku. Aku
sendiri juga bingung. Akhirnya ayah menjelaskan bahwa pagi tadi mereka
mengantarkan jasadku ke jawa tengah. Aku juga bingung kenapa bisa seperti itu
aku merasa aku baik baik saja.” Lanjutnya
Aku
perlahan mengangkat kepalaku. Memberanikan diri menatap matanya. Mata yang sama
seperti dulu ia punya. Mata teduh yang membuat aku tidak bisa perpaling
sedikitpudarinya.
“aku minta maaf Ris tidak sempat
membertahu kamu. Sore itu akku langsung menyiapkan pasporku untuk ke Amerika.
Aku merasa harus memenuhi tanggung jawabku untuk sekolah kita” katanya lagi
seraya mengulurkan tangan kearah ku. Dengan sisa isak yang masih ada aku membalas uluran tangan itu.. Aku merasa
separuh hidupku yang mati kini kembali lagi.
Altaf
mengajaku pulang... Cukup jauh aku melankah meninggalkan gerbang sekolah. Altaf
menggenggam tangaku erat. Ya kebahagian itu jelas memenuhi batinku saat ini. Kebahagian
yang aku rasakan membuat kau tidak menyadari bahwa wanita berpakaian putih itu
tengah mengikuti kami. “siapa dia?” Tanyaku pada Altaf.
“biarkan saja. Dia tidak akan mengganggu
kita. Ini hanya efek cincinmu saja” jawabnya. Intinya cewek itu adalah makhuk
dari dunia lain. Sebelum sampai di rumah tanpa sepengetahuan Altaf aku melempar
cincin darinya ke sungai. Aku merasa sudah tidak membutuhkannya lagi kehadiran
Altaf sudah cukup buatku. Lagian semenjak ada cincin itu aku sering ketakutan
berada di rumah.
Sesampainya
di rumah. Lagi lagi aku di kagetkan dengan sesuatu yang aneh. Di atas laci
kamarku tergelatak sebuah cincin yang tak lain adalah cincin dari Altaf.
Bagaimana mungkin? Bukankah tadi aku sudah membuangnya? Arghhh ….
Malam
itu, ku kirimkan pesan kepadanya dari handphone ku. Mengirimkan kata-kata yang
sering kukirimkan kepadanya. Mengharap balasan yang lugas seperti biasa.
Mengharap sebaris kalimat balasan yang akan membuatku tersenyum.
Satu menit, berlalu, satu jam pun
mendekat, dan akhirnya malam yang hampa tanpa balasan sepatah kata pun yang
masuk ke handphone ku. Kecewa rasanya tak seperti malam-malam dulu. Saat ia
membalas pesanku walaupun dua atau tiga kali balasan. Akhirnya kuterlelap dalam
gelapnya malam di kamarku yang sepi.
Pagi harinya kujalani hidupku seperti
biasa. Sekolah dengan semangat karna hari ini nilai UAN akan keluar tak
dipungkiri kadang nilai juga menjadi prioritas. Di samping ilmu yang tentunya
bermanfaat. Selain itu aku juga akan bertemu Altaf. Kebahagiaan itu pasti akan
terasa lengkap kalau akan lulus dengan nilai baik dan di temani dia.
Aku berjalan melintasi ruang kuliah dan
mencoba menengok ke ruangan sebelah yang kebetulan ruangan Altaf. Tengok di
tengok, tak ada wajah yang kucari. Bangku yang biasanya ia duduki kosong dan
tak ada tanda-tanda keberadaannya. Dia tidak masuk sekolah hari itu.untuk
menjawab rasa penasaranku ku tunggu kelas tersebut usai sambil bermain laptop
di samping ruangannya. Dan akhirnya teman-temannya pun keluar dan kutanya
“kenapa Altaf tidak masuk?”. Mereka mengernyitkan kening “Altaf siapa?”
“altaf yang kemarin dikirim ke Amerika?”
“kamu ngigo ya?” Kata mereka seraya
tertawa meninggalkanku sendiri. Aku melongo.
Tak ada satu pun temannya yang mau
member tau, . Maklum ia adalah orang yang sangat tertutup dan orang yang paling
fokus yang pernah ku kenal. Jadi wajar kalau mereka tidak tau
“cari siapa ya dik?” Tanya seorang guru
berpeci hitam. Aku tersenyum ada harapan . Ia pasti tau keberadaan Altaf.
“altaf pak? Apa bapak tau keberadaan
dia? Kenapa dia tidak masuk? Dia sakit ya pak” aku tiba tiba membrondong
pertanyaan itu.
“bagaiman adik bisa menenal altaf?” Pertanyaan
aneh menurutku.
“bagaimana saya tidak mengenalnya. Semua
siswa disini juga tahu Altaf adalah siswa tauladan di sekolah kita. Ia yang
dikirim ke Amerika karna mendapat besiswa untuk persiapan studi s1nya” Guru
yang biasa di panggil Pak.Somad itu mengajakku masuk kedalam kelasnya. Ia
menceritakan bahwa Altaf itu memang siswa terpandainya. Altaf adalah seorang
siswa yang pernah dikirim ke Amerika tapi itu 5 tahun yang lalu. 8 tahun yang
lalu itu berarti jauh sebelum aku masuk sekolah kesini. Aku tidak percaya!
Jelas jelas selama sekolah disini aku mengenalnya aku dekat denganya dan kami
mempunyai rasa yang sama.
Aku beranjak dari tempat dudukku, aku
berlari menuju mobil yang terparkir di halaman sekolah. Aku memacu kendaraanku
menuju rumah Altaf. Mungkin hanya disana yang akan mempertemukanku dengannya.
Namun, sesampainya disana hanya rumput ilalang dan rumah tua tak terurus yang
aku temui. Rumah megah itu hilang.
Aku bingung dengan semua iniaku meneteskan
airmata, perasaanku sakit. Kepalaku juga pusing seluruh sendi-sendi tubuhku
kaku. Menyaksikan semua ini membuatku semakin heran.semunyannya terlalu nyata.
Aku hanya bisa menangis satu hal yang tidak pernah aku tau ternyata aku
mempunyai kelebihan melihat makhluk lain aku mampu berdialog dengan mereka jauh
sebelum aku mengenekan cincin dari Altaf.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar