Jumat, 05 Juni 2015

Kisah Ini Terlalu Nyata



Mungkin bukan saatnya untuk membicarakan cinta dalam benakku saat ini Karena ku terperangkap dalam banyak tanggung jawab dan segudang target yang harus dicapai tahun ini. Tapi, dia membuatku ternganga saat kejadian di hari itu.
Altaf namanya selalu ada dipikiranku saat itu. Mungkin karena kagum atau suka atau mungkinkah cinta. Senyumnya yang unik, selalu tergambar wajahnya yang polos dan kata-katanya yang lugas dan tegas. Memberikan semangat pada diriku. Memberikan kekuatan yang dahsyat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan terus lebih baik sepanjang hari. Menjemput segudang prestasi di kelas. Melawan keterbatasan yang ada pada diriku. Agak sedikit lebay kurasa, tapi memang seperti itu. Dampak singkat yang ditimbulkan oleh pancaran hatinya yang tulus. Dia yang banyak berprestasi membuatku terus termotivasi setiap hari dalam hidupku.Matanya yang teduh membuatku tak bisa melupakannya.  
Malam itu ia mengirim pesan kepadaku. Mengirim sebaris kalimat yang mebuatku tersenyum. Ia sedang menyatakan segala perasaannya saat itu. Aku sedikit kaget, bagaimanamungkin seorang Altaf laki-laki terpopuler di sekolahku suka dengan anak penjual soto keliling seperti aku? Arghhh ntahlah! Tanpa berpikir panjang akupun membalasnya “iya aku juga mencintaimu”
Sejak hari itu aku merasa hidupku penuh arti. Ada semangat baru setiap kali aku melngkahkan kaki ke sekolah. Altaf merubah hidupku… ! Merubah segala hal dalam diriku termasuk merubah sikap teman temanku. Aku juga tidak mengerti kanapa di saat aku sedang bahagia bersama Altaf tak ada satupn orang yang mau berteman denganku. Bahkan sahabatkupun juga menjauh. Terlalu banyak sepasang mata yang menatap kami dengan sinis. Tidak haya di sekolah tapi juga orang orang di luar. Ketika di taman, di mall, nonton I segala tempat keramaian aku merasa banyak orang yang merasa tidak suka melihat aku dengan Altaf. Itu tterlalu  jelas untuk kku tafsirkan tapi Altaf selalu saja mengatakan “itu hanya perasaanmu saja”.
  Setaun berlalu, banyak cerita tentang aku dan dia yang tidak mungkin aku jelaskan satu persatu disini.. Yang jelas semakin aku mengenalnya semakin aku mengerti siapa dia. Altaf adalah anak saudagar kaya raya kekayaan oran tuanya tidaak membuat ia malas untuk meraih prestasi demi prestasi di sekolah. Aku sempat merasa takut ketika orang tuanya suatu saat melihat keadaanku. Aku takut kalau mereka tidak setuju tapi aku ternyata salah orang tuanya sangat mendukung hubungan kami sekalipun mereka tau anak siapa aku sebenarnya.
 Banyak orang orang yang mencintainya termasuk seluruh guru dan teman teman di sekolahku tidak seperti aku. Ntahlah kenapa bisa seperti itu.. Akku tidak ambil pusing yang jelas merasa bahagia. Minggu depan Altaf akan di kirim ke Amerika untuk mengikuti lomba. Namun,  satu hal yang sangat aku khawatirkan saat ini ya tentang penyakitnya. Selama ini Altaf menyidap penyakit kangker stadium 3.! Dan aku baru tau itu. Namun statementnya tentang segala penyakit yang dia rasakan seolah mampu memabayar rasa khawatirku.
Dua hari sebelum keberangkatannya ia menitipkan cincin kepadaku. Ia mengatakan bahwa cincin itu adalah cincin dari neneknya ia memakaikanya di tangan kiriku. Hanya sebagai pengingat saja bahwa aku miliknya. Begitu katanya.
Semenjak aku memakai cincin itu aku merasa terlalu banyak hal aneh yang terjadi pada diriku. Aku sering melihat penampakan penampakan di kamarku. Sepertinya cincin itu membawa pengaruh besar dalam diriku. Aku mendadak mempunyai indra ke6 begitu kata ayah dan ibu ku. Sebenarnya orang tuak ingin mengenal dekat Altaf tapi setiap kalia aku mengajaknya kerumah ia selalu saja menolak dedngan berbagai alas an.
       Sore itu saat aku berjalan keluar rumah aku bertemu dengan kakaknya Altaf, kak Rey. Ia menghampiriku dan mengajakku kerumahnya. Tanpa bertanya pun aku mengikuti langkahnya. Sesampainya disana, aku merasa sedikit aneh. Rumahnya yang biasanya sepi hari ini sesak di penuhi orang orang berpakaian hitam dan di depan rumahnya berkibar bendera kuning. Bendera kematian. Siapa yang meninggal? Tanyaku.
       “titipkan pesanmu kepada Altaf ya” ucak kak Rey yang sepertinya membaca kebingunganku.
Pesan kepada Altaf? Apa maksudnya? Aku memasuki pagar rumah besar itu dengan langkah gemetar, langkahku terhenti ketika aku tepat berada di depan pintu. Hari itu aku benar-benar merasa frustasi, tidak ada lagi hasrat untuk hidup yang melekat di dalam jiwa, hari-hari bagaikan jurang yang curam, seperti mendung yang tak akan pernah memperlihatkan cahaya mantahari. Rasanya mengakhiri hidup merupakan jalan satu-satunya yang terbaik. Air mataku meleleh begitu saja saat aku melihat tubuh Altaf yang berbalut kain putih sudah terbaring kaku.
       “sabar ya…” kak rey merengkuh bahuku. Ia berusaha memberi kekuatan kepadaku tapi itu sangat tidak berpengaruh buatku. Perlahan aku melangkahkan kaki mendekati tubuh Altaf. Aku harus kuat ! Iya aku harus kuat.
“sayang bangun… kenapa kau tidur saja?” Kataku pada tubuh yang terbujur kaku itu akuberusaha tersenyum. Ku cubit pipinya, ku goyang goyang tubuhnya tapi ia tetap saja tidak mau bangun. Air mataku kembali meleleh aku benar benar tidak sanggup menahan  gejolak dalam hati. Seorang wanita yang masih muda menghampiriku dan merengkuh badanku.. Akhirnya aku menangis sejadi jadinya di dalam pelukannya.
“kenapa bisa seperti ini tante?” Kataku terisak.
“Altaf kecelakaan sewaktu perjalanan ke Amerika kemarin….” Suaranya tercekat dan air matanya meleleh dengan derasnnya.  “ Nyawanya tidak dapat tertolong. Hari ini ia akan di makamkan ke jawa tengah. Di tempat pemakaman keluarga kami. Berilah pesan terakhirmu Risa…” ucap wanita berumur 45 tahun itu dengan nada bergetar dan sedikit memohon… tiap kalimat yang ia ucapkan menyimpan kepiluan yang tidak bisa di gambarkan.
Mendengar kenyataan itu hatiku merasa semakin sakit. Melihat kenyataan ini pikiranku terasa terkuras. Aku masih ingin melihat senyumnya, tawanya dan amarahnya. Aku juga tidak ingin jika mata teduhnya itiu benar-benar tertutup untuk selama-lamanya. Tapi arghhh.. !
Aku mengembalikkan pikiranku yang melambung jauh dan menghentikannya untuk melihat bintang-bintang masa lalu dari otak dan memoriku. Aku harus bisa meenerima kenyataan. Mungkin ini akhir kisahku….!
DRRTTT…DRTTTTT…
Aku dikagetkan dengan suara getaran handphne yang aku letakan di nightstand. Aku raih handphone itu dan memencet tombol hijau disana.
“Halo?” Sapaku dengan suara yang sedikit parau.
“Risa, Ini kak Arya mau ngabarin sesuatu buat kamu. Besok Altaf akan datang diacara perpisahanmu ia akan menjemputmu.”
Aku tertegun. Altaf ? Mana mungkin ia datang? Mana mungkin ia menjemputku..?
“Risa, kamu masih disana?”
“jangan bercanda kak” kataku yang sedikit tersenyum kecut meski aku tau kak Arya tidak akan melihatnya.
“sudahlah besok tunggu saja ia datang kesekolah”
Tutt tuttt tutt panggilan terputus. Aku menghela nafas panjang. Aneh !
       Esoknya masih seperti biasa, aku datang pukul setengah 7 pagi. Aku berpapasan dengan Mira, dan jalan bersama menuju aula. Hari ini adalah hari perpisahan kelas kami. Sesampainya disana kami memilih dudu paling depan. Selain ingin melihat dengan jelas acara demi acara kami juga tidak ingin terganggu dengan suara riuh anak lelaki jika kami duduk di belakang.
       Acara selesai. Aku bergegas pulang namun langkahku terhenti seketika saat seorang laki laki memanggil namaku
“Risa..”
Aku menengok kearah suara itu? Suaraku tercekat, mulutku ternganga. Seorang laki laki yang cukup aku kenal tengah berdiri di gerbang sekolah. Namun, di belakangnya tengah berdiri wanita cantik berpakaian putih dengan rambutnya yang tegerai panjang. Laki laki itu melangkah mendekat kearahku.. Ia berusaha merengkuhku
“jangan mendekat” kataku seraya melangkah mundur
“why? Ini aku Altaf”
Aku menggelengkan kepala “tidak !Kamu bukan Altaf”.
“ris…” ia melangkah mendekat dank u hempaskan tangannya yang berusaha menyentuh pundakku. Tiba tiba Air mataku mengalir deras. Bagaimana bisa? Mana mungkin ini terjadi? Semua di luar kontrol otakku aku terjatuh di tanah.. Aku berusaha kuat. Aku tidak boleh pingsan. Laki laki itu berjalan dan duduk jongkok di kananku.
“maafkan aku ris..aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Waktu itu usai kecelakaan aku sedang berada di dalam rumah. Tapi rumah tampak sepi ayah ibu kak.rey semua tidak ada. Aku di kunci di dalam rumah. Aku berusaha menghubungi nomer mereka sama sekali tak ada jawaban..” Katanya. “sorenya mereka pulang. Mereka terkejut melihat aku yang sedang tidur di sofa ruang tamu. Mereka ketakutan sama sekali tak ada yang mau mendekatiku. Aku sendiri juga bingung. Akhirnya ayah menjelaskan bahwa pagi tadi mereka mengantarkan jasadku ke jawa tengah. Aku juga bingung kenapa bisa seperti itu aku merasa aku baik baik saja.” Lanjutnya
       Aku perlahan mengangkat kepalaku. Memberanikan diri menatap matanya. Mata yang sama seperti dulu ia punya. Mata teduh yang membuat aku tidak bisa perpaling sedikitpudarinya.
“aku minta maaf Ris tidak sempat membertahu kamu. Sore itu akku langsung menyiapkan pasporku untuk ke Amerika. Aku merasa harus memenuhi tanggung jawabku untuk sekolah kita” katanya lagi seraya mengulurkan tangan kearah ku. Dengan sisa isak yang masih ada  aku membalas uluran tangan itu.. Aku merasa separuh hidupku yang mati kini kembali lagi.
       Altaf mengajaku pulang... Cukup jauh aku melankah meninggalkan gerbang sekolah. Altaf menggenggam tangaku erat. Ya kebahagian itu jelas memenuhi batinku saat ini. Kebahagian yang aku rasakan membuat kau tidak menyadari bahwa wanita berpakaian putih itu tengah mengikuti kami. “siapa dia?” Tanyaku pada Altaf.
“biarkan saja. Dia tidak akan mengganggu kita. Ini hanya efek cincinmu saja” jawabnya. Intinya cewek itu adalah makhuk dari dunia lain. Sebelum sampai di rumah tanpa sepengetahuan Altaf aku melempar cincin darinya ke sungai. Aku merasa sudah tidak membutuhkannya lagi kehadiran Altaf sudah cukup buatku. Lagian semenjak ada cincin itu aku sering ketakutan berada di rumah.
       Sesampainya di rumah. Lagi lagi aku di kagetkan dengan sesuatu yang aneh. Di atas laci kamarku tergelatak sebuah cincin yang tak lain adalah cincin dari Altaf. Bagaimana mungkin? Bukankah tadi aku sudah membuangnya? Arghhh ….
       Malam itu, ku kirimkan pesan kepadanya dari handphone ku. Mengirimkan kata-kata yang sering kukirimkan kepadanya. Mengharap balasan yang lugas seperti biasa. Mengharap sebaris kalimat balasan yang akan membuatku tersenyum.
Satu menit, berlalu, satu jam pun mendekat, dan akhirnya malam yang hampa tanpa balasan sepatah kata pun yang masuk ke handphone ku. Kecewa rasanya tak seperti malam-malam dulu. Saat ia membalas pesanku walaupun dua atau tiga kali balasan. Akhirnya kuterlelap dalam gelapnya malam di kamarku yang sepi.
Pagi harinya kujalani hidupku seperti biasa. Sekolah dengan semangat karna hari ini nilai UAN akan keluar tak dipungkiri kadang nilai juga menjadi prioritas. Di samping ilmu yang tentunya bermanfaat. Selain itu aku juga akan bertemu Altaf. Kebahagiaan itu pasti akan terasa lengkap kalau akan lulus dengan nilai baik dan di temani dia.
Aku berjalan melintasi ruang kuliah dan mencoba menengok ke ruangan sebelah yang kebetulan ruangan Altaf. Tengok di tengok, tak ada wajah yang kucari. Bangku yang biasanya ia duduki kosong dan tak ada tanda-tanda keberadaannya. Dia tidak masuk sekolah hari itu.untuk menjawab rasa penasaranku ku tunggu kelas tersebut usai sambil bermain laptop di samping ruangannya. Dan akhirnya teman-temannya pun keluar dan kutanya “kenapa Altaf  tidak masuk?”.  Mereka mengernyitkan kening “Altaf siapa?” “altaf yang kemarin dikirim ke Amerika?”
“kamu ngigo ya?” Kata mereka seraya tertawa meninggalkanku sendiri. Aku melongo.
Tak ada satu pun temannya yang mau member tau, . Maklum ia adalah orang yang sangat tertutup dan orang yang paling fokus yang pernah ku kenal. Jadi wajar kalau mereka tidak tau
“cari siapa ya dik?” Tanya seorang guru berpeci hitam. Aku tersenyum ada harapan . Ia pasti tau keberadaan Altaf.
“altaf pak? Apa bapak tau keberadaan dia? Kenapa dia tidak masuk? Dia sakit ya pak” aku tiba tiba membrondong pertanyaan itu.
“bagaiman adik bisa menenal altaf?” Pertanyaan aneh menurutku.
“bagaimana saya tidak mengenalnya. Semua siswa disini juga tahu Altaf adalah siswa tauladan di sekolah kita. Ia yang dikirim ke Amerika karna mendapat besiswa untuk persiapan studi s1nya” Guru yang biasa di panggil Pak.Somad itu mengajakku masuk kedalam kelasnya. Ia menceritakan bahwa Altaf itu memang siswa terpandainya. Altaf adalah seorang siswa yang pernah dikirim ke Amerika tapi itu 5 tahun yang lalu. 8 tahun yang lalu itu berarti jauh sebelum aku masuk sekolah kesini. Aku tidak percaya! Jelas jelas selama sekolah disini aku mengenalnya aku dekat denganya dan kami mempunyai rasa yang sama.
Aku beranjak dari tempat dudukku, aku berlari menuju mobil yang terparkir di halaman sekolah. Aku memacu kendaraanku menuju rumah Altaf. Mungkin hanya disana yang akan mempertemukanku dengannya. Namun, sesampainya disana hanya rumput ilalang dan rumah tua tak terurus yang aku temui. Rumah megah itu hilang.
Aku bingung dengan semua iniaku meneteskan airmata, perasaanku sakit. Kepalaku juga pusing seluruh sendi-sendi tubuhku kaku. Menyaksikan semua ini membuatku semakin heran.semunyannya terlalu nyata. Aku hanya bisa menangis satu hal yang tidak pernah aku tau ternyata aku mempunyai kelebihan melihat makhluk lain aku mampu berdialog dengan mereka jauh sebelum aku mengenekan cincin dari Altaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar