Minggu, 07 Juni 2015

Dia Tidak Akan Pernah Tahu

Kertas-kertas masih berserakan di sekitar meja belajar sambil menyeringai menertawakanku. Sudah berpuluh-puluh kertas ku coret-coret dan ku sia-siakan karena gagal menulis esai. Mengapa imajinasiku belum juga muncul? Aku memang tidak pandai menulis, akan tetapi setidaknya aku bisa menyelesaikan tugasku untuk ujian praktek besok. Ujian praktek memang sudah di depan mata, tetapi lagi-lagi dia lagi yang muncul di kepalaku.
“hah !!” ku banting keras buku yang ku pegang, ntah kenapa aku akhir akhir ini sering sekali emosi.
Drttt drttt drttt tiba tiba poselku berbunyi
“semangat!! ” pesan singkat malam ini yang membuat ku tersenyum lebar. Mengumpulkan pesan singkatnya di handphoneku adalah hobi terbaruku. Sudah 92 pesan yang terkumpul sejak 6 bulan yang lalu. Sedikit ya? Tapi itulah faktanya. Walaupun hanya sebuah pesan pemberitahuan, tapi aku begitu senang mengoleksinya. Aku memang tidak pernah berbincang-bincang langsung dengannya. Namun, inilah ekspresiku mencintainya dan diamlah caraku menyayanginya.
Esoknya di kantin
“vie..” ada sapaan singkat dari sebelah kiri aku duduk, aku berlahan menoleh. Dia yang selama ini aku maksud telah untuk pertama kalinya menyapaku, benarkah? Senyumku terasa kaku, ada kebahagian tersendiri yang susah untuk aku ungkapkan.
“iyaaa” cuman kata itu saja yang mampu aku keluarkan
“jalan yuk nanti ?” katanya
“ha?” aku sedikit ternganga
“iya jalan, kenapa? Gak bisa ya?” tanyanya sedikit gusar
Aku menatapnya lekat. pernah merasa seperti di atas awan nggak? Melayang terhembus angin yang memang diharapkan datang, menerobos badai yang bahkan dulunya takut untuk dilewati, dan memekik senyum yang hampir mekar karena terjebak dalam suara petir yang menggemuruh. Semua ku rasakan sekarang ini. Dan semua ini membuat tanda tanya di benakku semakin membesar. Mungkinkah ini saatnya? Atau ini Cuma obsebsi yang hanya akan ku rasakan sementara saja?
“vie..!” dia memanggilku sedikit keras
Aku hanya kaget! tersadar ! seakan bangun dari tidur, aku membereskan diriku agar terlihat biasa saja dan berusaha sekuat mungkin menutupi sesuatu, yaitu rona merah di pipiku tanda malu karena sudah ketahuan memperhatikannya. Aku hanya menggaruk leherku yang tak gatal
“iya boleh” jujur aku susah untuk berekspresi biasa, semua karena gugup, lalu dia hanya tersenyum bingung
“sampai ketemu nanti ya!” katanya, dan aku hanya tersenyum untuk mengisyaratkan “oke”.
-
Malam ini rasanya aku semangat sekali mengerjakan tugas, entah aliran listrik dari mana yang aku dapat, tapi yang pastinya energi dalam tubuhku terisi penuh, kejadian tadi siang mampu membuat otakku encer untuk mengerjakan tugas-tugas, sesekali aku tersenyum, sesekali aku bahagia.
Seminggu semenjak kejadian itu aku dan dia semakin akrab. Tidak jarang kami sering berbagi cerita, bercanda bersama, mengerjakan tugas bersama, bahkan pulang pergi ke kampus pun bersama. Hampir segala hal kita lakukan bersama. Ia pun sudah tidak canggung untuk membagi keluh kesahnya, saat seperti ini aku merasa bahwa hadirku sangat berarti untuknya. Sedikit lebay memang tapi setidaknya begitulah yang aku rasakan.
Dia sebenarnya adalah laki-laki yang memiliki paras dan rupa yang biasa dan sederhana, akan tetapi dia sangat bersahaja. Wajah yang memancarkan sinar keimanan dan kelembutan, membuat hatiku memihaknya. Dia laki-laki yang bertanggungjawab, di setiap langkah kakinya, dia tak pernah meninggalkan amanahnya. Untuk siapakah dia kelak? Aku menginginkannya, akan tetapi aku tak pernah tau apakah aku begitu membutuhkannya.?
Masih ku ingat betapa menggemaskannya saat dia tertawa kecil seperti saat dia meledekku. Aku juga masih ingat cara dia mengejekku. Aku suka caranya saat itu memperlakukanku. Hanya senyum hangat yang selalu mewarnaiku. Sungguh aku tak pernah menyangka apa yang terjadi selanjutnya karena ini bukan kelanjutan yang aku harapkan. Aku mengira dengan semua kebersamaan itu, semua akan menjadi mudah bagiku untuk bisa lebih dekat lagi dengannya. Ternyata aku salah!
Ntah kenapa dia akhir-akhir ini terlihat murung, tidak banyak bicara, bahkan saat berpapasan denganku di tangga kampus ia hanya menatapku sejenak tanpa senyuman. Bahkan aku tak lagi menerima sms darinya padahal aku sangat berharap bahwa akulah orang yang paling dibutuhkannya setiap malam. Tapi lagi lagi aku menelan kekecewaan. Pahit rasanya !
 Beberapa hari setelahnya aku masih menganggap biasa sikap acuhnya tidak menyapaku itu dan kini aku sadar. Dua hari yang lalu, tepatnya hari Kamis aku melihatnya berada di kampus seperti sedang sibuk menyiapkan sesuatu di dalam kelas. Aku tenang saja melihat gelagatnya karena itu pemandangan yang biasa buatku. Aku yakin dia sadar akan keberadaanku di ruangan itu, tapi entah kenapa dia diam. Apa salahku sampai dia sedingin itu? Apa yang sudah aku lakukan sampai ini semua terjadi? Apa mungkin akhirnya dia menyadari kalau rasa ini padanya semakin besar? Ataukah mungkin dia ingin aku menjauh darinya? dia mengacuhkan keberadaanku. Aku hanya bisa menghela nafas marah. Aku kesal padanya, aku benar-benar kesal padanya.
-
“tidak tau kenapa wanita itu seakan hanya berkemampuan untuk memandang saja, diam, memendam. Bisu. Seperti patung dan mungkin hanya tinggal menunggu retak di bagian tertentu yaitu hati”
Satu kalimat inilah yang keluar dari hatiku saat dia lewat di hadapanku dengan menggandeng seorang gadis cantik berhijab. Dia terihat sangat bahagia sampai-sampai dia tidak memperhatikan keberadaanku ketika berpapasan dengannya.
Ternyata angin jauh lebih beruntung daripada aku, angin mampu membuat dia merasakan kehadirannya, sedangkan diriku? tidak sama sekali. Sakit, itu yang kurasakan saat ini. Aku hanya bisa memandang dia dari sini. Dia tidak tahu aku menyukainya, dia juga tidak tahu aku mencintainya. Dan sampai kapanpun dia tidak akan pernah tau semua itu.
“hhuftttt” Aku berusaha mengambil nafas panjang karna hal seperti ini lah yang berpotensi memunculkan semangat di dalam diri. Tapi ? aku benar benar tak kuasa menahannya. semua percakapan itu seolah tak pernah ada di ingatannya. Semua ejekannya buatku seolah tak pernah keluar dari bibirnya. Aku benar-benar terjebak pada semua moment bersamanya. Aku benar-benar bodoh masih bisa mengingat setiap detil kejadian saat itu, bahkan saat dia mengacuhkanku. Aku masih bisa mengingatnya.
Aku butuh jawaban dari pertanyaan yang aku sendiri tak tahu apa. Aku takut, aku benar-benar takut kali ini. Aku takut aku gak bisa move on. Dia udah cukup menyita pikiranku sebulan ini. Jadi gimana mungin bisa aku lupain dia segampang itu. Dia membuatku benar benar sesak
Sebentar, dia membuatku sesak? apa berarti ini salah dia? TIDAK ! Aku yang menyukainya dan mencintainya terlebih dahulu, tanpa dia ketahui sama sekali. Dia tidak memintaku untuk mencintainya, dia tidak memintaku untuk menyukainya. Akulah, hatikulah yang memintanya, lantas? yaa.. pada akhirnya akulah yang membuat sesak diriku sendiri, akulah yang salah, bukan dia. Tapi kenapa dia tidak pernah cerita kalau sudah punya pacar? Kenapa dia mendekatiku ? Huaaaaaaaa aku menangis sejadi jadinya di kamar mandi kampus. Aku benar-benar hancur!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar