Kertas-kertas masih berserakan di
sekitar meja belajar sambil menyeringai menertawakanku. Sudah berpuluh-puluh
kertas ku coret-coret dan ku sia-siakan karena gagal menulis esai. Mengapa
imajinasiku belum juga muncul? Aku memang tidak pandai menulis, akan tetapi
setidaknya aku bisa menyelesaikan tugasku untuk ujian praktek besok. Ujian
praktek memang sudah di depan mata, tetapi lagi-lagi dia lagi yang muncul di
kepalaku.
“hah !!” ku banting keras buku yang ku
pegang, ntah kenapa aku akhir akhir ini sering sekali emosi.
Drttt
drttt drttt tiba tiba poselku berbunyi
“semangat!! ” pesan singkat malam ini
yang membuat ku tersenyum lebar. Mengumpulkan pesan singkatnya di handphoneku
adalah hobi terbaruku. Sudah 92 pesan yang terkumpul sejak 6 bulan yang lalu.
Sedikit ya? Tapi itulah faktanya. Walaupun hanya sebuah pesan pemberitahuan,
tapi aku begitu senang mengoleksinya. Aku memang tidak pernah
berbincang-bincang langsung dengannya. Namun, inilah ekspresiku mencintainya
dan diamlah caraku menyayanginya.
Esoknya di kantin
“vie..” ada sapaan singkat dari sebelah
kiri aku duduk, aku berlahan menoleh. Dia yang selama ini aku maksud telah untuk
pertama kalinya menyapaku, benarkah? Senyumku terasa kaku, ada kebahagian
tersendiri yang susah untuk aku ungkapkan.
“iyaaa” cuman kata itu saja yang mampu
aku keluarkan
“jalan yuk nanti ?” katanya
“ha?” aku sedikit ternganga
“iya jalan, kenapa? Gak bisa ya?” tanyanya sedikit gusar
“iya jalan, kenapa? Gak bisa ya?” tanyanya sedikit gusar
Aku menatapnya lekat. pernah merasa
seperti di atas awan nggak? Melayang terhembus angin yang memang diharapkan
datang, menerobos badai yang bahkan dulunya takut untuk dilewati, dan memekik
senyum yang hampir mekar karena terjebak dalam suara petir yang menggemuruh.
Semua ku rasakan sekarang ini. Dan semua ini membuat tanda tanya di benakku
semakin membesar. Mungkinkah ini saatnya? Atau ini Cuma obsebsi yang hanya akan
ku rasakan sementara saja?
“vie..!” dia memanggilku sedikit keras
Aku hanya kaget! tersadar ! seakan
bangun dari tidur, aku membereskan diriku agar terlihat biasa saja dan berusaha
sekuat mungkin menutupi sesuatu, yaitu rona merah di pipiku tanda malu karena
sudah ketahuan memperhatikannya. Aku hanya menggaruk leherku yang tak gatal
“iya boleh” jujur aku susah untuk
berekspresi biasa, semua karena gugup, lalu dia hanya tersenyum bingung
“sampai ketemu nanti ya!” katanya, dan
aku hanya tersenyum untuk mengisyaratkan “oke”.
-
Malam ini rasanya aku semangat sekali
mengerjakan tugas, entah aliran listrik dari mana yang aku dapat, tapi yang
pastinya energi dalam tubuhku terisi penuh, kejadian tadi siang mampu membuat
otakku encer untuk mengerjakan tugas-tugas, sesekali aku tersenyum, sesekali
aku bahagia.
Seminggu semenjak kejadian itu aku dan
dia semakin akrab. Tidak jarang kami sering berbagi cerita, bercanda bersama,
mengerjakan tugas bersama, bahkan pulang pergi ke kampus pun bersama. Hampir segala
hal kita lakukan bersama. Ia pun sudah tidak canggung untuk membagi keluh
kesahnya, saat seperti ini aku merasa bahwa hadirku sangat berarti untuknya.
Sedikit lebay memang tapi setidaknya begitulah yang aku rasakan.
Dia sebenarnya adalah laki-laki yang
memiliki paras dan rupa yang biasa dan sederhana, akan tetapi dia sangat
bersahaja. Wajah yang memancarkan sinar keimanan dan kelembutan, membuat hatiku
memihaknya. Dia laki-laki yang bertanggungjawab, di setiap langkah kakinya, dia
tak pernah meninggalkan amanahnya. Untuk siapakah dia kelak? Aku menginginkannya,
akan tetapi aku tak pernah tau apakah aku begitu membutuhkannya.?
Masih ku ingat betapa menggemaskannya
saat dia tertawa kecil seperti saat dia meledekku. Aku juga masih ingat cara
dia mengejekku. Aku suka caranya saat itu memperlakukanku. Hanya senyum hangat
yang selalu mewarnaiku. Sungguh aku tak pernah menyangka apa yang terjadi selanjutnya
karena ini bukan kelanjutan yang aku harapkan. Aku mengira dengan semua
kebersamaan itu, semua akan menjadi mudah bagiku untuk bisa lebih dekat lagi dengannya.
Ternyata aku salah!
Ntah kenapa dia akhir-akhir ini terlihat
murung, tidak banyak bicara, bahkan saat berpapasan denganku di tangga kampus
ia hanya menatapku sejenak tanpa senyuman. Bahkan aku tak lagi menerima sms
darinya padahal aku sangat berharap bahwa akulah orang yang paling dibutuhkannya
setiap malam. Tapi lagi lagi aku menelan kekecewaan. Pahit rasanya !
Beberapa hari setelahnya aku masih menganggap
biasa sikap acuhnya tidak menyapaku itu dan kini aku sadar. Dua hari yang lalu,
tepatnya hari Kamis aku melihatnya berada di kampus seperti sedang sibuk
menyiapkan sesuatu di dalam kelas. Aku tenang saja melihat gelagatnya karena
itu pemandangan yang biasa buatku. Aku yakin dia sadar akan keberadaanku di
ruangan itu, tapi entah kenapa dia diam. Apa salahku sampai dia sedingin itu?
Apa yang sudah aku lakukan sampai ini semua terjadi? Apa mungkin akhirnya dia
menyadari kalau rasa ini padanya semakin besar? Ataukah mungkin dia ingin aku
menjauh darinya? dia mengacuhkan keberadaanku. Aku hanya bisa menghela nafas
marah. Aku kesal padanya, aku benar-benar kesal padanya.
-
-
“tidak tau kenapa wanita itu seakan
hanya berkemampuan untuk memandang saja, diam, memendam. Bisu. Seperti patung
dan mungkin hanya tinggal menunggu retak di bagian tertentu yaitu hati”
Satu kalimat inilah yang keluar dari hatiku saat dia lewat di hadapanku dengan menggandeng seorang gadis cantik berhijab. Dia terihat sangat bahagia sampai-sampai dia tidak memperhatikan keberadaanku ketika berpapasan dengannya.
Satu kalimat inilah yang keluar dari hatiku saat dia lewat di hadapanku dengan menggandeng seorang gadis cantik berhijab. Dia terihat sangat bahagia sampai-sampai dia tidak memperhatikan keberadaanku ketika berpapasan dengannya.
Ternyata angin jauh lebih beruntung
daripada aku, angin mampu membuat dia merasakan kehadirannya, sedangkan diriku?
tidak sama sekali. Sakit, itu yang kurasakan saat ini. Aku hanya bisa memandang
dia dari sini. Dia tidak tahu aku menyukainya, dia juga tidak tahu aku
mencintainya. Dan sampai kapanpun dia tidak akan pernah tau semua itu.
“hhuftttt” Aku berusaha mengambil nafas
panjang karna hal seperti ini lah yang berpotensi memunculkan semangat di dalam
diri. Tapi ? aku benar benar tak kuasa menahannya. semua percakapan itu seolah
tak pernah ada di ingatannya. Semua ejekannya buatku seolah tak pernah keluar
dari bibirnya. Aku benar-benar terjebak pada semua moment bersamanya. Aku
benar-benar bodoh masih bisa mengingat setiap detil kejadian saat itu, bahkan
saat dia mengacuhkanku. Aku masih bisa mengingatnya.
Aku butuh jawaban dari pertanyaan yang aku sendiri tak tahu apa. Aku takut, aku benar-benar takut kali ini. Aku takut aku gak bisa move on. Dia udah cukup menyita pikiranku sebulan ini. Jadi gimana mungin bisa aku lupain dia segampang itu. Dia membuatku benar benar sesak
Aku butuh jawaban dari pertanyaan yang aku sendiri tak tahu apa. Aku takut, aku benar-benar takut kali ini. Aku takut aku gak bisa move on. Dia udah cukup menyita pikiranku sebulan ini. Jadi gimana mungin bisa aku lupain dia segampang itu. Dia membuatku benar benar sesak
Sebentar, dia membuatku sesak? apa berarti
ini salah dia? TIDAK ! Aku yang menyukainya dan mencintainya terlebih dahulu,
tanpa dia ketahui sama sekali. Dia tidak memintaku untuk mencintainya, dia
tidak memintaku untuk menyukainya. Akulah, hatikulah yang memintanya, lantas?
yaa.. pada akhirnya akulah yang membuat sesak diriku sendiri, akulah yang
salah, bukan dia. Tapi kenapa dia tidak pernah cerita kalau sudah punya pacar?
Kenapa dia mendekatiku ? Huaaaaaaaa aku menangis sejadi jadinya di kamar mandi
kampus. Aku benar-benar hancur!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar