Minggu, 07 Juni 2015

Sejahat Itukah Jarak Ini

Tidak semua hal di dunia inibisa diutarakan dengan kata-kata, bahkan sosial media yang kini merajai duniamaya seakan hanya menjadi figuran dalam kisah ini.
Terlalu banyak kebetulan. Satukalimat yang selalu kupikirkan sejak ku mengenalnya. Sayangnya di dunia initidak ada yang dinamakan kebetulan, yang ada hanya takdir.  Dan semua perbedaan ini? Mungkinkah ini jugatakdir?
Aku sangat tahu tidak banyakyang bisa kita lakukan selain menahan. Kita tak cukup banyak ruang untuk salingbersentuhan. Terlalu menyakitkan keterbatasan kita menyebabkan kita tidakbanyak tahu dan tidak banyak bertemu. Terlalu menyakitkan saat diamana kita tidakbisa bergerak banyak ketika rindu tak bisa direda. Inikah cara cinta menyiksa kita?
Mungkin, jika aku berada disampingmu dan merasakan yang juga kau rasakan. Maka aku yakin tak akan adapertengkaran, tak akan ada air mata ketika hanya tulisan dan suara yang bisamenguatkan kita. tentu saja tak akan ada ucapan rindu berkali-kali yangterlontar dari bibir, ketika perasaan ini semakin membabibuta. Aq minta maaftak ada pilihan lain selain pergi meninggakanmu.
Aku tidak pernah tahu Apa yangkita pertahankan selama ini? Apakah yang bisa kita andalkan sejauh ini? Sekuatapakah perasaan ini? Menahan dan mempertahankan atau mengakhirinya saja? Yang akutahu tak kan ada arti jauhnya jarak jika aku dan kamu masih sangat mungkin untukmempertahankan semuanya
Aku akui, aku tidak pernah bisaberbuat dengan benar jika tugas dan kesibukan menghampiriku. Yang aku tahu,hanya bagaimana caranya aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dan mengabaikanbagamana cara memperhatikanmu. Aku terlalu bodoh akan hal itu.sekali lagi aku mint maaf !
Pahamilah, aku bukan yang terbaik —bukan samasekali. Tetapi aku bersikeras untuk mampu mempertahankanmu dalam mengoyakanmasa depan kita. Sekalipun banyak sekali yang menyalahkanku akan semua ini.aku akan tetap menjiwai tanpa batas naluri keingkaran yang kita miliki. Menempuhruang yang tak bisa kita goreskan sama sekali.
Aku percaya, akan ada suatu hari. Dimana kitamenembus ruang tersebut dan membiarkan kita menempatinya. Aku percaya bahwasemuanya tak akan menjadi sia-sia belaka. Membiarkan dinding kosong dan rapuhtak terurus. Jadi berikan derasan kepercayaan bahwa jarak bukan alasan untuktidak menjadi sepasang kita. Jarak hanyalah sekadar angka, jika kita masihmemperjuangkan cinta yang sama.


                              
                                       
                                                                                                                                                                                                   Salam,
                                                                                                                                                                                     pejuang LDR. :D :(

Dia Tidak Akan Pernah Tahu

Kertas-kertas masih berserakan di sekitar meja belajar sambil menyeringai menertawakanku. Sudah berpuluh-puluh kertas ku coret-coret dan ku sia-siakan karena gagal menulis esai. Mengapa imajinasiku belum juga muncul? Aku memang tidak pandai menulis, akan tetapi setidaknya aku bisa menyelesaikan tugasku untuk ujian praktek besok. Ujian praktek memang sudah di depan mata, tetapi lagi-lagi dia lagi yang muncul di kepalaku.
“hah !!” ku banting keras buku yang ku pegang, ntah kenapa aku akhir akhir ini sering sekali emosi.
Drttt drttt drttt tiba tiba poselku berbunyi
“semangat!! ” pesan singkat malam ini yang membuat ku tersenyum lebar. Mengumpulkan pesan singkatnya di handphoneku adalah hobi terbaruku. Sudah 92 pesan yang terkumpul sejak 6 bulan yang lalu. Sedikit ya? Tapi itulah faktanya. Walaupun hanya sebuah pesan pemberitahuan, tapi aku begitu senang mengoleksinya. Aku memang tidak pernah berbincang-bincang langsung dengannya. Namun, inilah ekspresiku mencintainya dan diamlah caraku menyayanginya.
Esoknya di kantin
“vie..” ada sapaan singkat dari sebelah kiri aku duduk, aku berlahan menoleh. Dia yang selama ini aku maksud telah untuk pertama kalinya menyapaku, benarkah? Senyumku terasa kaku, ada kebahagian tersendiri yang susah untuk aku ungkapkan.
“iyaaa” cuman kata itu saja yang mampu aku keluarkan
“jalan yuk nanti ?” katanya
“ha?” aku sedikit ternganga
“iya jalan, kenapa? Gak bisa ya?” tanyanya sedikit gusar
Aku menatapnya lekat. pernah merasa seperti di atas awan nggak? Melayang terhembus angin yang memang diharapkan datang, menerobos badai yang bahkan dulunya takut untuk dilewati, dan memekik senyum yang hampir mekar karena terjebak dalam suara petir yang menggemuruh. Semua ku rasakan sekarang ini. Dan semua ini membuat tanda tanya di benakku semakin membesar. Mungkinkah ini saatnya? Atau ini Cuma obsebsi yang hanya akan ku rasakan sementara saja?
“vie..!” dia memanggilku sedikit keras
Aku hanya kaget! tersadar ! seakan bangun dari tidur, aku membereskan diriku agar terlihat biasa saja dan berusaha sekuat mungkin menutupi sesuatu, yaitu rona merah di pipiku tanda malu karena sudah ketahuan memperhatikannya. Aku hanya menggaruk leherku yang tak gatal
“iya boleh” jujur aku susah untuk berekspresi biasa, semua karena gugup, lalu dia hanya tersenyum bingung
“sampai ketemu nanti ya!” katanya, dan aku hanya tersenyum untuk mengisyaratkan “oke”.
-
Malam ini rasanya aku semangat sekali mengerjakan tugas, entah aliran listrik dari mana yang aku dapat, tapi yang pastinya energi dalam tubuhku terisi penuh, kejadian tadi siang mampu membuat otakku encer untuk mengerjakan tugas-tugas, sesekali aku tersenyum, sesekali aku bahagia.
Seminggu semenjak kejadian itu aku dan dia semakin akrab. Tidak jarang kami sering berbagi cerita, bercanda bersama, mengerjakan tugas bersama, bahkan pulang pergi ke kampus pun bersama. Hampir segala hal kita lakukan bersama. Ia pun sudah tidak canggung untuk membagi keluh kesahnya, saat seperti ini aku merasa bahwa hadirku sangat berarti untuknya. Sedikit lebay memang tapi setidaknya begitulah yang aku rasakan.
Dia sebenarnya adalah laki-laki yang memiliki paras dan rupa yang biasa dan sederhana, akan tetapi dia sangat bersahaja. Wajah yang memancarkan sinar keimanan dan kelembutan, membuat hatiku memihaknya. Dia laki-laki yang bertanggungjawab, di setiap langkah kakinya, dia tak pernah meninggalkan amanahnya. Untuk siapakah dia kelak? Aku menginginkannya, akan tetapi aku tak pernah tau apakah aku begitu membutuhkannya.?
Masih ku ingat betapa menggemaskannya saat dia tertawa kecil seperti saat dia meledekku. Aku juga masih ingat cara dia mengejekku. Aku suka caranya saat itu memperlakukanku. Hanya senyum hangat yang selalu mewarnaiku. Sungguh aku tak pernah menyangka apa yang terjadi selanjutnya karena ini bukan kelanjutan yang aku harapkan. Aku mengira dengan semua kebersamaan itu, semua akan menjadi mudah bagiku untuk bisa lebih dekat lagi dengannya. Ternyata aku salah!
Ntah kenapa dia akhir-akhir ini terlihat murung, tidak banyak bicara, bahkan saat berpapasan denganku di tangga kampus ia hanya menatapku sejenak tanpa senyuman. Bahkan aku tak lagi menerima sms darinya padahal aku sangat berharap bahwa akulah orang yang paling dibutuhkannya setiap malam. Tapi lagi lagi aku menelan kekecewaan. Pahit rasanya !
 Beberapa hari setelahnya aku masih menganggap biasa sikap acuhnya tidak menyapaku itu dan kini aku sadar. Dua hari yang lalu, tepatnya hari Kamis aku melihatnya berada di kampus seperti sedang sibuk menyiapkan sesuatu di dalam kelas. Aku tenang saja melihat gelagatnya karena itu pemandangan yang biasa buatku. Aku yakin dia sadar akan keberadaanku di ruangan itu, tapi entah kenapa dia diam. Apa salahku sampai dia sedingin itu? Apa yang sudah aku lakukan sampai ini semua terjadi? Apa mungkin akhirnya dia menyadari kalau rasa ini padanya semakin besar? Ataukah mungkin dia ingin aku menjauh darinya? dia mengacuhkan keberadaanku. Aku hanya bisa menghela nafas marah. Aku kesal padanya, aku benar-benar kesal padanya.
-
“tidak tau kenapa wanita itu seakan hanya berkemampuan untuk memandang saja, diam, memendam. Bisu. Seperti patung dan mungkin hanya tinggal menunggu retak di bagian tertentu yaitu hati”
Satu kalimat inilah yang keluar dari hatiku saat dia lewat di hadapanku dengan menggandeng seorang gadis cantik berhijab. Dia terihat sangat bahagia sampai-sampai dia tidak memperhatikan keberadaanku ketika berpapasan dengannya.
Ternyata angin jauh lebih beruntung daripada aku, angin mampu membuat dia merasakan kehadirannya, sedangkan diriku? tidak sama sekali. Sakit, itu yang kurasakan saat ini. Aku hanya bisa memandang dia dari sini. Dia tidak tahu aku menyukainya, dia juga tidak tahu aku mencintainya. Dan sampai kapanpun dia tidak akan pernah tau semua itu.
“hhuftttt” Aku berusaha mengambil nafas panjang karna hal seperti ini lah yang berpotensi memunculkan semangat di dalam diri. Tapi ? aku benar benar tak kuasa menahannya. semua percakapan itu seolah tak pernah ada di ingatannya. Semua ejekannya buatku seolah tak pernah keluar dari bibirnya. Aku benar-benar terjebak pada semua moment bersamanya. Aku benar-benar bodoh masih bisa mengingat setiap detil kejadian saat itu, bahkan saat dia mengacuhkanku. Aku masih bisa mengingatnya.
Aku butuh jawaban dari pertanyaan yang aku sendiri tak tahu apa. Aku takut, aku benar-benar takut kali ini. Aku takut aku gak bisa move on. Dia udah cukup menyita pikiranku sebulan ini. Jadi gimana mungin bisa aku lupain dia segampang itu. Dia membuatku benar benar sesak
Sebentar, dia membuatku sesak? apa berarti ini salah dia? TIDAK ! Aku yang menyukainya dan mencintainya terlebih dahulu, tanpa dia ketahui sama sekali. Dia tidak memintaku untuk mencintainya, dia tidak memintaku untuk menyukainya. Akulah, hatikulah yang memintanya, lantas? yaa.. pada akhirnya akulah yang membuat sesak diriku sendiri, akulah yang salah, bukan dia. Tapi kenapa dia tidak pernah cerita kalau sudah punya pacar? Kenapa dia mendekatiku ? Huaaaaaaaa aku menangis sejadi jadinya di kamar mandi kampus. Aku benar-benar hancur!!

Jumat, 05 Juni 2015

Kemiskinan itu Menjadi Teman



Aku tidak akan pernah lupa dengan apa yang harus aku perjuangkan untuk mendapatkan segala yang aku inginkan. Aku sangat tahu dan sadar bahwa keluargaku sangat miskin. Tapi tidak pernahku tahu betapa pedih kemiskinan itu sesungguhnya. Dan saat semua bisa berkata apa saja yang mereka suka dan yang mereka mau, lantas bagaimana dengan ku? Aku hanya terpuruk dalam masa depan suram ku, dan masa lalu ku yang tak dapat aku raih lagi. Ketika kaki ini mulai melangkah tak tentu arah pandang dan tujuan, menahan semua luka jiwa, hanya 1 yang dapat aku sesali saat itu. Dad, YOU ARE MY EVERYTHING  but why did you leave us to fend for themselves? Semua itu yang hanya ada di benakku. Hanya dapat mengandai kecil yang mungkin kan ku gapai. Jika ayahku tidak memilih menjadi pengangguran, mungkin aku akan hidup lebih layak bersama adik dan ibuku.
Mungkin ayahku telah menjadi orang yang paling bodoh sedunia? Mungkin ayahku seorang yang paling berdosa di dunia? Dia adalah sosok yang paling aku harapkan tapi  dia telah menjadi sosok yang paling menyia-nyiakan kehadiran kami. Mungkin dia  akan bilang aku hanyalah anak kecil yang merengek dan menyusahkan orang lain. Tapi apakah ia tahu siapa yang selalu menjadi pahlawan ku? Dia adalah istrinya (ibuku) Ibuku adalah sosok wanita kuat yang menjadi motivator ku. Ibu lah yang selalu berjuang keras menahan sakit untuk dapat menyekolahkan aku, ibu percaya hanya dengan pendidikan sahaja yang mampu mengubah kemiskinan itu. ibu tidak mahu anak-anaknya mewarisi kemiskinannya seperti mana ibu dan ayah juga telah mewarisi kemiskinan orang tua mereka turun-temurun.
Sejak SMP ayah memutuskan untuk tidak bekerja, ibuku saat itu hanya ibu rumah tangga biasa, setiap harinya kami hanya makan dari tanaman yang ada di kebun, sebutir telur harus dibagi tiga untuk aku, adik dan juga ibuku. Maka ketika ulang tahun ibu memberikan satu telur utuh terasa bagai hadiah istimewa buat kami semua. Untuk kebutuhan sehari-hari, buah-buahan hasil kebun dijual ibuku dengan tanpa patokan harga tergantung yang mau membeli. Sampai selepas SMK ayahku masih tidak mau bekerja. Maka saat itu ibuku memutuskan untuk mencari pekerjaan.
Sering aku berangkat sekolah tidak ada sarapan dan tidak ada uang saku. Maka dengan sangat terpaksa waktu itu jarak kesekolah harus kutempuh dengan jalan kaki. Memang, Berjalan kaki ke SMK ku di Jl. Wahidin dari rumahku tidak sejauh Ma Yan berjalan (buku yang pernah aku baca) tetapi jarak 3 kilometer cukup jauh dan cukup membuat bengkak kakiku, selain itu juga sangat melelahkan untuk ku tempuh dibanding teman-temanku yang datang dengan kendaraaan. Argh.. tidak hanya itu aku masih ingat aku harus menahan hati melihat teman-temanku membeli segala barang sementara aku sendiri tidak. Apa mungkin ayah tahu persis bagaimana penderitaanku ketika itu?
Melihat perjuangan ibu dengan lebam lebam di tanganya akibat sering mencuci pakaian tetangga maka aku berniat mempersembahkan prestasi sebagai hadiah kerja kerasnya. dan Saat masa sekolah kutenggelamkan diriku dalam buku-buku pelajaran, seringkali buku-buku itu kuperoleh dari meminjam baik di perpustakaan atau teman-teman atau harus bongkar gudang mencari buku-buku orangtuaku jaman dulu, toh ilmu bisa didapat dari buku mana saja tidak harus sama dengan yang digunakan disekolah. Pada saat itu yang ada dalam benakku hanyalah berhasil di sekolah, setiap selesai sholat tahajud aku langsung belajar pada jam 3 pagi, sore hari, malam hari, kegiatanku cuma belajar. Akhirnya prestasi terbaik tak pernah lepas dari tanganku tapi ketika harapanku untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi harus terhenti seolah duniaku mati. Saat itu ibuku datang dan memberitahu bahwa ia tidak mungkin bisa membiayai kuliyahku, aku diminta mengerti karna sudah cukup beban ibuku untuk membiayai sekolah adiku. Berhenti sekolah adalah mimpi buruk bagiku. Aku menangis, berontak, marah..merasa tidak berguna, merasa tidak dihargai segala prestasi yang didapat. Selama berminggu-minggu semangatku lenyap, tapi aku tidak mau kalah hingga akhirnya aku mengikuti test di sebuah lembaga pendidikan program 4 tahun dengan biaya pendaftaran yang kuhutang pada tetanggaku dulu (karena memang belum ada) namun sepertinya Allah tidak mengabulkan doaku. Aku GAGAL.  Maka tahun berikutnya aku mencoba lagi namun lagi lagi kegagalan itu yang datang.
Saat itu aku merasa sudah tidak punya banyak waktu. Aku nekad pergi ke kota , mempertaruhkan hidup dan bersedia bekerja apapun asal bisa membiayaiku  kuliyahku. Dan Alhamdulillah Allah mengabulkan doaku dan doa ibuku ,aku bisa melanjutkan kuliyah dengan biaya sendiri.
Tanpa semangat kerja keras  ayah dulu, telah membuat ku berpikir bahwa ayahlah yang telah membuat hidupku hancur sangat HANCUR. Namun disisi lain aku tahu ayah yang sudah membuatku menjadi gadis yang mandiri, gadis dewasa, gadis tegar.  Ingin sekali aku pertanyakan Siapa aku sebenarnya di mata dia? Apa aku hanya seonggok daging dengan namaku? Bukan kah aku seharunya adalah little angel nya? Yang aku heran dia begitu tega membiarkan aku dan ibuku berjuang sedemikian keras Kenapa dia membuat cerita yang begitu sendu?

Kisah Ini Terlalu Nyata



Mungkin bukan saatnya untuk membicarakan cinta dalam benakku saat ini Karena ku terperangkap dalam banyak tanggung jawab dan segudang target yang harus dicapai tahun ini. Tapi, dia membuatku ternganga saat kejadian di hari itu.
Altaf namanya selalu ada dipikiranku saat itu. Mungkin karena kagum atau suka atau mungkinkah cinta. Senyumnya yang unik, selalu tergambar wajahnya yang polos dan kata-katanya yang lugas dan tegas. Memberikan semangat pada diriku. Memberikan kekuatan yang dahsyat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan terus lebih baik sepanjang hari. Menjemput segudang prestasi di kelas. Melawan keterbatasan yang ada pada diriku. Agak sedikit lebay kurasa, tapi memang seperti itu. Dampak singkat yang ditimbulkan oleh pancaran hatinya yang tulus. Dia yang banyak berprestasi membuatku terus termotivasi setiap hari dalam hidupku.Matanya yang teduh membuatku tak bisa melupakannya.  
Malam itu ia mengirim pesan kepadaku. Mengirim sebaris kalimat yang mebuatku tersenyum. Ia sedang menyatakan segala perasaannya saat itu. Aku sedikit kaget, bagaimanamungkin seorang Altaf laki-laki terpopuler di sekolahku suka dengan anak penjual soto keliling seperti aku? Arghhh ntahlah! Tanpa berpikir panjang akupun membalasnya “iya aku juga mencintaimu”
Sejak hari itu aku merasa hidupku penuh arti. Ada semangat baru setiap kali aku melngkahkan kaki ke sekolah. Altaf merubah hidupku… ! Merubah segala hal dalam diriku termasuk merubah sikap teman temanku. Aku juga tidak mengerti kanapa di saat aku sedang bahagia bersama Altaf tak ada satupn orang yang mau berteman denganku. Bahkan sahabatkupun juga menjauh. Terlalu banyak sepasang mata yang menatap kami dengan sinis. Tidak haya di sekolah tapi juga orang orang di luar. Ketika di taman, di mall, nonton I segala tempat keramaian aku merasa banyak orang yang merasa tidak suka melihat aku dengan Altaf. Itu tterlalu  jelas untuk kku tafsirkan tapi Altaf selalu saja mengatakan “itu hanya perasaanmu saja”.
  Setaun berlalu, banyak cerita tentang aku dan dia yang tidak mungkin aku jelaskan satu persatu disini.. Yang jelas semakin aku mengenalnya semakin aku mengerti siapa dia. Altaf adalah anak saudagar kaya raya kekayaan oran tuanya tidaak membuat ia malas untuk meraih prestasi demi prestasi di sekolah. Aku sempat merasa takut ketika orang tuanya suatu saat melihat keadaanku. Aku takut kalau mereka tidak setuju tapi aku ternyata salah orang tuanya sangat mendukung hubungan kami sekalipun mereka tau anak siapa aku sebenarnya.
 Banyak orang orang yang mencintainya termasuk seluruh guru dan teman teman di sekolahku tidak seperti aku. Ntahlah kenapa bisa seperti itu.. Akku tidak ambil pusing yang jelas merasa bahagia. Minggu depan Altaf akan di kirim ke Amerika untuk mengikuti lomba. Namun,  satu hal yang sangat aku khawatirkan saat ini ya tentang penyakitnya. Selama ini Altaf menyidap penyakit kangker stadium 3.! Dan aku baru tau itu. Namun statementnya tentang segala penyakit yang dia rasakan seolah mampu memabayar rasa khawatirku.
Dua hari sebelum keberangkatannya ia menitipkan cincin kepadaku. Ia mengatakan bahwa cincin itu adalah cincin dari neneknya ia memakaikanya di tangan kiriku. Hanya sebagai pengingat saja bahwa aku miliknya. Begitu katanya.
Semenjak aku memakai cincin itu aku merasa terlalu banyak hal aneh yang terjadi pada diriku. Aku sering melihat penampakan penampakan di kamarku. Sepertinya cincin itu membawa pengaruh besar dalam diriku. Aku mendadak mempunyai indra ke6 begitu kata ayah dan ibu ku. Sebenarnya orang tuak ingin mengenal dekat Altaf tapi setiap kalia aku mengajaknya kerumah ia selalu saja menolak dedngan berbagai alas an.
       Sore itu saat aku berjalan keluar rumah aku bertemu dengan kakaknya Altaf, kak Rey. Ia menghampiriku dan mengajakku kerumahnya. Tanpa bertanya pun aku mengikuti langkahnya. Sesampainya disana, aku merasa sedikit aneh. Rumahnya yang biasanya sepi hari ini sesak di penuhi orang orang berpakaian hitam dan di depan rumahnya berkibar bendera kuning. Bendera kematian. Siapa yang meninggal? Tanyaku.
       “titipkan pesanmu kepada Altaf ya” ucak kak Rey yang sepertinya membaca kebingunganku.
Pesan kepada Altaf? Apa maksudnya? Aku memasuki pagar rumah besar itu dengan langkah gemetar, langkahku terhenti ketika aku tepat berada di depan pintu. Hari itu aku benar-benar merasa frustasi, tidak ada lagi hasrat untuk hidup yang melekat di dalam jiwa, hari-hari bagaikan jurang yang curam, seperti mendung yang tak akan pernah memperlihatkan cahaya mantahari. Rasanya mengakhiri hidup merupakan jalan satu-satunya yang terbaik. Air mataku meleleh begitu saja saat aku melihat tubuh Altaf yang berbalut kain putih sudah terbaring kaku.
       “sabar ya…” kak rey merengkuh bahuku. Ia berusaha memberi kekuatan kepadaku tapi itu sangat tidak berpengaruh buatku. Perlahan aku melangkahkan kaki mendekati tubuh Altaf. Aku harus kuat ! Iya aku harus kuat.
“sayang bangun… kenapa kau tidur saja?” Kataku pada tubuh yang terbujur kaku itu akuberusaha tersenyum. Ku cubit pipinya, ku goyang goyang tubuhnya tapi ia tetap saja tidak mau bangun. Air mataku kembali meleleh aku benar benar tidak sanggup menahan  gejolak dalam hati. Seorang wanita yang masih muda menghampiriku dan merengkuh badanku.. Akhirnya aku menangis sejadi jadinya di dalam pelukannya.
“kenapa bisa seperti ini tante?” Kataku terisak.
“Altaf kecelakaan sewaktu perjalanan ke Amerika kemarin….” Suaranya tercekat dan air matanya meleleh dengan derasnnya.  “ Nyawanya tidak dapat tertolong. Hari ini ia akan di makamkan ke jawa tengah. Di tempat pemakaman keluarga kami. Berilah pesan terakhirmu Risa…” ucap wanita berumur 45 tahun itu dengan nada bergetar dan sedikit memohon… tiap kalimat yang ia ucapkan menyimpan kepiluan yang tidak bisa di gambarkan.
Mendengar kenyataan itu hatiku merasa semakin sakit. Melihat kenyataan ini pikiranku terasa terkuras. Aku masih ingin melihat senyumnya, tawanya dan amarahnya. Aku juga tidak ingin jika mata teduhnya itiu benar-benar tertutup untuk selama-lamanya. Tapi arghhh.. !
Aku mengembalikkan pikiranku yang melambung jauh dan menghentikannya untuk melihat bintang-bintang masa lalu dari otak dan memoriku. Aku harus bisa meenerima kenyataan. Mungkin ini akhir kisahku….!
DRRTTT…DRTTTTT…
Aku dikagetkan dengan suara getaran handphne yang aku letakan di nightstand. Aku raih handphone itu dan memencet tombol hijau disana.
“Halo?” Sapaku dengan suara yang sedikit parau.
“Risa, Ini kak Arya mau ngabarin sesuatu buat kamu. Besok Altaf akan datang diacara perpisahanmu ia akan menjemputmu.”
Aku tertegun. Altaf ? Mana mungkin ia datang? Mana mungkin ia menjemputku..?
“Risa, kamu masih disana?”
“jangan bercanda kak” kataku yang sedikit tersenyum kecut meski aku tau kak Arya tidak akan melihatnya.
“sudahlah besok tunggu saja ia datang kesekolah”
Tutt tuttt tutt panggilan terputus. Aku menghela nafas panjang. Aneh !
       Esoknya masih seperti biasa, aku datang pukul setengah 7 pagi. Aku berpapasan dengan Mira, dan jalan bersama menuju aula. Hari ini adalah hari perpisahan kelas kami. Sesampainya disana kami memilih dudu paling depan. Selain ingin melihat dengan jelas acara demi acara kami juga tidak ingin terganggu dengan suara riuh anak lelaki jika kami duduk di belakang.
       Acara selesai. Aku bergegas pulang namun langkahku terhenti seketika saat seorang laki laki memanggil namaku
“Risa..”
Aku menengok kearah suara itu? Suaraku tercekat, mulutku ternganga. Seorang laki laki yang cukup aku kenal tengah berdiri di gerbang sekolah. Namun, di belakangnya tengah berdiri wanita cantik berpakaian putih dengan rambutnya yang tegerai panjang. Laki laki itu melangkah mendekat kearahku.. Ia berusaha merengkuhku
“jangan mendekat” kataku seraya melangkah mundur
“why? Ini aku Altaf”
Aku menggelengkan kepala “tidak !Kamu bukan Altaf”.
“ris…” ia melangkah mendekat dank u hempaskan tangannya yang berusaha menyentuh pundakku. Tiba tiba Air mataku mengalir deras. Bagaimana bisa? Mana mungkin ini terjadi? Semua di luar kontrol otakku aku terjatuh di tanah.. Aku berusaha kuat. Aku tidak boleh pingsan. Laki laki itu berjalan dan duduk jongkok di kananku.
“maafkan aku ris..aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Waktu itu usai kecelakaan aku sedang berada di dalam rumah. Tapi rumah tampak sepi ayah ibu kak.rey semua tidak ada. Aku di kunci di dalam rumah. Aku berusaha menghubungi nomer mereka sama sekali tak ada jawaban..” Katanya. “sorenya mereka pulang. Mereka terkejut melihat aku yang sedang tidur di sofa ruang tamu. Mereka ketakutan sama sekali tak ada yang mau mendekatiku. Aku sendiri juga bingung. Akhirnya ayah menjelaskan bahwa pagi tadi mereka mengantarkan jasadku ke jawa tengah. Aku juga bingung kenapa bisa seperti itu aku merasa aku baik baik saja.” Lanjutnya
       Aku perlahan mengangkat kepalaku. Memberanikan diri menatap matanya. Mata yang sama seperti dulu ia punya. Mata teduh yang membuat aku tidak bisa perpaling sedikitpudarinya.
“aku minta maaf Ris tidak sempat membertahu kamu. Sore itu akku langsung menyiapkan pasporku untuk ke Amerika. Aku merasa harus memenuhi tanggung jawabku untuk sekolah kita” katanya lagi seraya mengulurkan tangan kearah ku. Dengan sisa isak yang masih ada  aku membalas uluran tangan itu.. Aku merasa separuh hidupku yang mati kini kembali lagi.
       Altaf mengajaku pulang... Cukup jauh aku melankah meninggalkan gerbang sekolah. Altaf menggenggam tangaku erat. Ya kebahagian itu jelas memenuhi batinku saat ini. Kebahagian yang aku rasakan membuat kau tidak menyadari bahwa wanita berpakaian putih itu tengah mengikuti kami. “siapa dia?” Tanyaku pada Altaf.
“biarkan saja. Dia tidak akan mengganggu kita. Ini hanya efek cincinmu saja” jawabnya. Intinya cewek itu adalah makhuk dari dunia lain. Sebelum sampai di rumah tanpa sepengetahuan Altaf aku melempar cincin darinya ke sungai. Aku merasa sudah tidak membutuhkannya lagi kehadiran Altaf sudah cukup buatku. Lagian semenjak ada cincin itu aku sering ketakutan berada di rumah.
       Sesampainya di rumah. Lagi lagi aku di kagetkan dengan sesuatu yang aneh. Di atas laci kamarku tergelatak sebuah cincin yang tak lain adalah cincin dari Altaf. Bagaimana mungkin? Bukankah tadi aku sudah membuangnya? Arghhh ….
       Malam itu, ku kirimkan pesan kepadanya dari handphone ku. Mengirimkan kata-kata yang sering kukirimkan kepadanya. Mengharap balasan yang lugas seperti biasa. Mengharap sebaris kalimat balasan yang akan membuatku tersenyum.
Satu menit, berlalu, satu jam pun mendekat, dan akhirnya malam yang hampa tanpa balasan sepatah kata pun yang masuk ke handphone ku. Kecewa rasanya tak seperti malam-malam dulu. Saat ia membalas pesanku walaupun dua atau tiga kali balasan. Akhirnya kuterlelap dalam gelapnya malam di kamarku yang sepi.
Pagi harinya kujalani hidupku seperti biasa. Sekolah dengan semangat karna hari ini nilai UAN akan keluar tak dipungkiri kadang nilai juga menjadi prioritas. Di samping ilmu yang tentunya bermanfaat. Selain itu aku juga akan bertemu Altaf. Kebahagiaan itu pasti akan terasa lengkap kalau akan lulus dengan nilai baik dan di temani dia.
Aku berjalan melintasi ruang kuliah dan mencoba menengok ke ruangan sebelah yang kebetulan ruangan Altaf. Tengok di tengok, tak ada wajah yang kucari. Bangku yang biasanya ia duduki kosong dan tak ada tanda-tanda keberadaannya. Dia tidak masuk sekolah hari itu.untuk menjawab rasa penasaranku ku tunggu kelas tersebut usai sambil bermain laptop di samping ruangannya. Dan akhirnya teman-temannya pun keluar dan kutanya “kenapa Altaf  tidak masuk?”.  Mereka mengernyitkan kening “Altaf siapa?” “altaf yang kemarin dikirim ke Amerika?”
“kamu ngigo ya?” Kata mereka seraya tertawa meninggalkanku sendiri. Aku melongo.
Tak ada satu pun temannya yang mau member tau, . Maklum ia adalah orang yang sangat tertutup dan orang yang paling fokus yang pernah ku kenal. Jadi wajar kalau mereka tidak tau
“cari siapa ya dik?” Tanya seorang guru berpeci hitam. Aku tersenyum ada harapan . Ia pasti tau keberadaan Altaf.
“altaf pak? Apa bapak tau keberadaan dia? Kenapa dia tidak masuk? Dia sakit ya pak” aku tiba tiba membrondong pertanyaan itu.
“bagaiman adik bisa menenal altaf?” Pertanyaan aneh menurutku.
“bagaimana saya tidak mengenalnya. Semua siswa disini juga tahu Altaf adalah siswa tauladan di sekolah kita. Ia yang dikirim ke Amerika karna mendapat besiswa untuk persiapan studi s1nya” Guru yang biasa di panggil Pak.Somad itu mengajakku masuk kedalam kelasnya. Ia menceritakan bahwa Altaf itu memang siswa terpandainya. Altaf adalah seorang siswa yang pernah dikirim ke Amerika tapi itu 5 tahun yang lalu. 8 tahun yang lalu itu berarti jauh sebelum aku masuk sekolah kesini. Aku tidak percaya! Jelas jelas selama sekolah disini aku mengenalnya aku dekat denganya dan kami mempunyai rasa yang sama.
Aku beranjak dari tempat dudukku, aku berlari menuju mobil yang terparkir di halaman sekolah. Aku memacu kendaraanku menuju rumah Altaf. Mungkin hanya disana yang akan mempertemukanku dengannya. Namun, sesampainya disana hanya rumput ilalang dan rumah tua tak terurus yang aku temui. Rumah megah itu hilang.
Aku bingung dengan semua iniaku meneteskan airmata, perasaanku sakit. Kepalaku juga pusing seluruh sendi-sendi tubuhku kaku. Menyaksikan semua ini membuatku semakin heran.semunyannya terlalu nyata. Aku hanya bisa menangis satu hal yang tidak pernah aku tau ternyata aku mempunyai kelebihan melihat makhluk lain aku mampu berdialog dengan mereka jauh sebelum aku mengenekan cincin dari Altaf.